[lima] Rumah Berteras Daun Jeruk

Aku turun dari angkot dengan keringat meleleh di leher dan belakang telinga. Di prapatan bogoran (baca: Mbogoran) itu Yunk menjemputku. WHO IS YUNK. Kami cuma perlu berjalan tak sampai satu menit untuk sampai di rumahnya yang teduh. Sewaktu masuk halaman, wangi melati mengucap selamat dating. Melati itu tumbuh lebat bersama pohon jeruk, sirih, dan cabe yang merayap di dinding. Sebelum masuk rumah aku melewati kolam ikan. Di atasnya bertengger sebuah kandang jangkrik. “Itu untuk pakan ikan,” jelas Yunk soal jangkrik-jangkrik tak bersalah itu.

Aku tidak tahu, karena rumah ni yang terlalu adem atau aku yang terlalu lelah, rencana makan-mandi-tidur itu tak juga terlaksana. Kami, aku dan Yunk, ngobrol lama di depan tv, membiarkan dia yang menonton kami, sampai ibu dating memperingatkan aku untuk makan.

Jam 4 petang aku sudah segar dan siap pergi. Tujuan pertama rumah Nana. Nana dan Yunk selalu bersama semenjak TK sampai SMA. Kami akan ke sana melihat bayinya yang abru berusia beberapa hari.

Ibu memanggilkan becak untuk kami. akhirnya aku kesampaian naik becak khas pekalongan ini. jalanan yang kami lewati cukup tenang. Ibu-ibu bergerombol di depan rumah. Tak banyak kendaraan yang berpapasan dengan kami. yunk salah mengingat alamat Nana. Aku senang-senang saja kesasar. Lebih lama lebih sedap. “Dasar,” komentar Yunk, maklum.

Dari rumah Nana kami berjalan ke alun-alun. Tadi angkot yang kunaiki juga lewat sini. Dia tampak lebih meriah dari alun-alun pekalongan. “Apalagi kalau malam minggu,” begitu Mahdi, adik Yunk semata wayang, ngompori. Kebetulan, pikirku.

[empat] BTG-PKL

Aku menyebut mereka Manusia Peta. Dua temanku itu, yang juga suka bepergian, setiap kali berada di sebuah kota asing maka yang mereka cari pertama kali adalah tourisme centre. Di sana mereka akan mengumpulkan peta dan brosur-brosur. Sejauh mana benda-benda itu menolong mereka agar tidak tersesat, aku belum pernah tanya. Sebelum nongkrong di Lapangan Mataram, di gedung DPRD Pekalongan, aku tak sengaja berpapasan dengan papan berbentuk tanda panah berisi tulisan tourisme centre. Iseng, aku mencoba merasai apa yang sering dilakukan 2 temanku itu.

Pak Turmudji, petugas keamanan gedung DPR, selain memperbolehkan aku numpang ngecas hp di kantor yang dijaganya, juga menawarkan diri mengantarku ke tourisme centre. Aku iya saja. Mana bisa aku menolak tawaran naik motor. Baru jam 7, tidak heran petugas tourisme centre belum datang, meskipun kantornya sudah buka. “Nanti saja balik lagi jam 9,” kata penjaga ruang itu. Aku mengangguk. Jam 9 aku sudah berada entah dimana, pikirku. Aku coba di kota lain, Kawan.

Pak Turmudji menemaniku menunggu angkot jurusan boum atau ngeboum, ini istilah yang dipakai penduduk Pekalongan untuk menyebut pantai. Sebelum naik, aku mewakilkan selamat tinggalku dengan ucapan terima kasih.

Di kota ini,

[tiga] Lapangan Mataram

Anak naga memuntahkanku di Stasiun Pekalongan. Belum subuh di sini. Aku mengincar sebuah warung kopi. Tempatnya cukup bersahaja. Sebuah ruang terbuka dengan meja kayu dan dua bangku panjang. Tapi seleraku sepertinya hampir sama dengan tukang ojek, abang becak, dan laki-laki bermulut usil. Mereka berkumpul di sana, bersuit pada semua perempuan yang melintas. Mereka membuat tempat itu durjana untukku. Aku melewatkan kedai kopi. Berbalik arah menuju kedai di sudut lain stasiun ini.

Aku jalan bersisian dengan kereta yang sedang menunggu diberangkatkan. Aku melewati gerbong 2 lagi. Perempuan Leri sedang melongokkan kepalanya di jendela setengah terbuka. “Ayo. Jadi turun nggak?” aku sendiri tidak yakin dengan ajakan ini. Perempuan Leri menggeleng. Ada sedih yang tak tersembunyi. “Dianya mana?”

Aku mengikuti arah pandangnya. Hanya gelap. Segelap jejak lelaki dari Comal itu sekarang. Berkilo-kilo meter dari sini, barangkali lelaki itu sedang bercanda dengan istrinya di kamar anak perempuannya yang karena tahu ayahnya akan pulang tak dapat memejamkan matanya sekejap pun semalaman. Atau mungkin juga dia sedang tertidur di becak yang akan mengantarnya ke rumah dan sama sekali lupa telah meninggalkan seorang perempuan di kereta. Di mimpinya, dia mencoret angka 7 menjadi 8. Angka itu merekam jumlah perempuan yang telah ia tipu di perjalanan.

Aku buru-buru meninggalkan perempuan Leri dengan sebuah ucapan selamat berpisah. Bayangan laki-laki yang pergi membuatku sentimentil. Aku belum lupa bagaimana dia bergegas mengemasi tasnya, beberapa saat sebelum masuk Stasiun Comal. Kami hanya memandangnya. Kami pikir dia hanya akan ke restorasi. Tak tahunya itu terakhir kali kami melihat dia.

Aku menemukan kedai itu tak berpembeli. Setelah memesan kopi, aku memilih kursi paling luar. Tawang Jaya belum berangkat ketika seseorang menarik kursi di depanku. Aku melupakan nasihat tentang orang asing. Perasaanku mengatakan dia orang baik. Kami kenalan. Dia Budi kedua yang kutemui di perjalanan. Dia pun berasal dari Semarang. Budi satu ini bekerja di Kantor Pos Pusat. Dia tampak antusias waktu tahu aku bekerja di LSM perempuan yang, salah satunya, mengurus soal kesehatan reproduksi. “Saya sudah 8 tahun menikah tapi belum juga dikaruniai anak.” Itu rupanya. Dia bertutur tentang pemeriksaan rahim dan bertanya soal bayi tabung. Aku memberi dia kontak lembaga-lembaga yang kutahu mengurus soal itu.

“Ke Pekalongan mau ke mana?” tanyanya mengelak dari kesedihan yang berlarut. Kopiku sudah berkawan dingin pagi.

“Nggak tahu. Jalan-jalan aja. Ke alun-alun mungkin. Atau ke pasar. Sentiling ya namanya?”

“Pasar Banjarsari? Ya. Tapi orang sini memang nyebutnya Pasar Sentiling.”

“Atau ke klenteng Po An Thian. Di mana itu?”

“Kalau nggak salah di sekitar alun-alun situ. Di jalan Belimbing?”

Aku mengeluarkan hasil pencarianku tentang kota ini yang sudah kucetak. “Ya. Jalan Belimbing Nomer 3.” Budi menawariku melihat Lapangan Mataram. “Jam segini pasar belum buka,” begitu jelasnya. “Alun-alun juga nggak ada apa-apa.”

“Kalau suka makanan-makanan tradisional di Lapangan Mataram banyak. Apalagi Sabtu Minggu banyak orang olah raga. Pokoknya rame deh.” Kata tradisional itu menggangguku. Apa aku tampak seperti orang kota yang datang ke hutan Kalimantan dan mencari manusia setengah telanjang untuk membuatku merasa lebih beradab? Aku berterima kasih saja menanggapi Budi. Masih dengan semangat, Budi mengusulkan aku pergi ke tempat pelelangan ikan.

“Ada apa di sana?” tanyaku, pasti terdengar bodoh.

“Lelang. Nanti ada orang yang cepet banget ngomongnya. Dia yang nyebutin harga ikan. Orang berebut nawar...” Aku tertawa. Bukan menertawakan Budi. Tapi menertawakan diriku sendiri. Bertahun-tahun aku tinggal di daerah pesisir, karib dengan liang-liang kerang dan bau asin yang mengerak di kulit. Kini, bermil-mil dari kota itu aku dihantar ke liang dan kerak yang sama. Tapi tak ada yang sama, kata seseorang di masa lalu. Tak pernah ada yang sama. Bahkan aliran selokan yang kita lewati itu selalu berubah setiap hari. Dan aku meyakini tuturnya itu. Aku jadi berpikir, untuk apa perjalanan dilakukan? Untuk menguar ingatan yang berkerak?

Aku belum memutuskan akan ke tempat pelelangan atau ke lapangan mataram terlebih dahulu. Budi memberiku petunjuk kalau ke tempat pelelangan lewat sini, lewat sini, naik ini, kalau ke lapangan mataram lurus aja, terabas rel kereta, belok kiri, ketemu pertigaan, belok kanan, dan seterusnya. Aku hanya mendengarkan, tak mampu mengingat petunjuknya.

Adzan subuh mengingatkanku untuk bergegas mengambil keputusan. “Jadi mau ke mana?” Budi meneguk tehnya. Aku menghabiskan kopiku.

“Ke Lapangan Mataram dulu deh. Lebih deket.”

“Ya. Kalau suka jalan sih mending ke Lapangan Mataram dulu. Paling satu kilo. Nanti bisa bareng saya. Lagian kalau ke TPI, jam segini angkot belum keluar.” Budi berdiri. Membenahi ranselnya. Membayar tehnya. Aku menyusul. “Saya sholat dulu,” katanya sambil menunjuk musholla kecil di seberang rel kereta.

Aku menunggu Budi sembahyang.

Jalanan masih lengang. Kami melewati dua tukang becak yang pulas di atas kendaranya. Setelah bertemu jalan raya kami berbelok ke kiri. Kami masih sempat bicara soal beasiswa yang didapatnya di ITB dan hotel depan stasiun yang dia sarankan untuk kuinapi. Di pertigaan kami berpisah. “Maaf nggak bisa nganter,” jabat tangannya cukup erat. Selepas matahari terbit nanti, dia harus mengantar istrinya yang menempuh pascasarjananya di IKIP Semarang. “Nggak papa, Mas. Makasih.” Udara tak terlalu sunyi. Aku merapatkan kain pantai di bahu.

Bendan, kutemukan nama itu di plang sebuah madrasah, kususuri sendiri. Cahaya dari teras menebar sampai ke jalan, lampu ruang tamu belum menyala. Kadang-kadang aku berpapasan dengan perempuan-perempuan bersepeda yang akan pergi ke pasar. Lalu sunyi lagi. Ah, betapa tempat ini. Aku tak dapat menemukan kata sifat yang tepat. Kanopi, pagar, ubin, jendela, dan cat dinding seperti didatangkan dari masa lalu. Aku lihat kehidupan baru bergerak di gudang sebuah catering dan perwakilan Suara Merdeka.

Saat aku sampai di lapangan mataram, pagi masih sangat belia. Namun, itu tak menghalangi orang-orang yang berpakaian olah raga, lengkap dengan sepatu dan handuk di bahu, untuk menikmati ritual Sabtu pagi mereka. Mungkin mereka aneh melihatku. Dengan ransel di punggung dan berkerudung kain bali, aku lebih mirip anak hilang. Tapi siapa peduli. Aku memilih salah satu bangku semen yang ada di setiap sudut lapangan ini. Duduk dan menulis sebuah surat untuk teman.

Hei.
Aku sudah di Pekalongan. Doamu diijabahi Tuhan. Aku sampai dengan selamat. Sekarang aku duduk di Lapangan Mataram. Ya, aku tahu, tempat ini memang tidak ada dalam daftar. Dalam doamu, apa kau juga meminta supaya aku banyak bertemu orang baik? Kalau benar, perlu kamu tahu, bagian yang itu juga dikabulkan Tuhan. Seseorang memberitahuku tentang tempat ini. Namanya Budi. Lain kali, kalau kita ketemu, aku akan cerita lebih banyak tentang dia.

Kau masih ingat Gasibu? Tempat ini adalah Gasibunya Bandung, hanya lebih kecil. Pohon palem dan tiang lampu terpancang selang seling. Ia juga dikelilingi trotoar, tempat orang berlari pagi. Sebagian dipakai para penjual makanan menampung pembelinya. Nasi megono? Tentu saja ada. Dan masih banyak lagi. Bubur ayam. Nasi kuning. STMJ. Susu murni. Soto ayam. Lontong opor. Bubur kacang ijo. Dan tidak cuma makanan. Ada juga orang yang berjualan majalah bekas, mainan anak-anak, dan jepit rambut. Tempat ini ramai di hari Sabtu. Sangat ramai di hari Minggu.

Tadi aku duduk di bangku semen lapangan ini. Karena nggak enak dilihatin orang, aku pindah ke tukang serabi. Sekedar cari motif. Eh, sebentar ya, teh yang kupesan sudah datang. (Biarpun ibu serabi ini sudah berjualan selama 4 tahun, dia tidak menjual yang lain selain kue serabi yang seharinya cuma menghabiskan kurang lebih 2 kilo tepung itu. Aku musti memesan teh dari tempat lain.) Hmm, suedap tenan, Rek. Kau harus coba. Aku nggak tahu teh apa yang dia seduh, nanti akan kutanyakan. Oh ya, konon Pekalongan punya kebun teh sendiri, Paninggaran. Aku ingin melihatnya juga.

Sampai mana kita tadi? Ah ya, Pagilaran. Oh bukan, sangat ramai di hari Minggu. Penjual-penjual ini mulai berkumpul di sini sejak tahun 2000. Saat itu krisis moneter sedang kejam-kejamnya. Dari cerita yang kudengar dari penjual mainan, pernah pedagang-pedagang ini diboyong ke, aduh maafkan aku lupa ke mana, mungkin alun-alun, dengan perkiraan akakn lebih ramai pembeli. Ternyata pembeli tak seantusias para pemilik keputusan. Dagangan mereka jadi sepi dan, bisa ditebak, mereka diusung lagi ke tempat ini, sampai sekarang.

Percayalah, aku tidak nyaman berkalung kamera dan menenteng buku catatan ke mana-mana, apalagi kalau sedang ngobrol dengan mereka. Tapi, kau tahu sendiri, ingatanku setumpul batu. Ketika aku memutuskan melenyapkan dua bawaanku itu dari pandangan, maka tak banyak yang bisa kukabarkan padamu. Padahal, dengan berpura-pura menjadi wartawan dari Jakarta (hahaha, ya itu yang kukatakan pada mereka), mereka jadi lebih banyak bicara dari tukang obat. Tapi aku senang bicara dengan mereka. Mereka orang-orang baik, sangat santun. (Dan mereka janggal mendengar bahasa Jawaku yang, biarpun tidak kromo-kromo amat, cukup fasihlah.)

“Datang lagi besok. Hari Minggu lebih ramai dari ini,” usul mereka setelah tahu aku baru sampai jam 5 pagi dan bertanya aku menginap di mana. Aku tersenyum saja. Aku sudah cukup senang pagi ini dan tak ingin terlalu senang dengan melihat keramaian esok hari. Tetap saja sebuah Insyaallah keluar dari mulutku. Aku bangkit dari paving blok. Ketika sedang membersihkan debu-debu di celana, mataku terperosok pada pemandangan ini: yang bercelana olah raga, yang berhanduk di bahu, yang memakai sepatu dan kaos kaki, sebagian besar berasal dari satu etnis tertentu, etnis tionghoa. Hampir 95%. Sangat kontras dengan mereka yang membuka lapak-lapak di tepian trotoar. Ini stereotip memang, tapi aku kemudian berpikir, siapakah mereka yang mempunyai waktu senggang di Sabtu pagi dan mengisinya dengan jogging dan sarapan di luar? Ah, abaikan pertanyaan ini. Anggap saja igauan orang yang terlalu lama di kereta.

Rara

Jimenez bilang, belum dibilang surat kalau tidak ada NB-nya. NB-ku padamu, teruskan pelajaran bahasa Jawa-mu. Di beberapa tempat terbukti mampu mendekatkan kau dengan mereka (ah, kau-mereka, berjarak sekali ya). Satu lagi, kalau kata-kata mengkhianati kita, kau bisa lihat foto-fotoku nanti.

Surat kulipat. Rp 1.500 untuk setangkup serabi. Seribu yang kuangsurkan untuk segelas teh, masih kembali Rp 300. Berapa harga obrolan kami?